Selasa, 29 Juni 2021

Keren, Koramil 0727/12 Jumapolo Rangkul Relawan LDII


Agar terciptanya kerjasama dan hubungan yang baik antara Koramil 0727/12 Jumapolo, Kabupaten Karanganyar dengan Komponen Masyarakat, maka Danramil 0727/12 Jumapolo Kapten Inf. Abdul Hanan Harmain melaksanakan Komsos (Komunikasi Sosial) dengan Komponen Masyarakat TA.2021 yang bertempat di gedung PKK Desa Jumapolo Kecamatan Jumapolo, Selasa' 29/06/2021.

Hadir dalam Komsos, Kapolsek Jumapolo AKP Sudirman, PLT Camat Jumapolo, Sri Ningsih, S,.Sos serta dari Ormas Senkom Mitra Polri, Relawan PC LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) Jumapolo Tisaga Buana, MDMC, RELJU, Masyarakat Peduli Lingkungan dan JR.

Dalam sambutannya, Danramil menjelaskan bahwa "Komunikasi sosial (Komsos) ini dilaksanakan  untuk menjalin tali silaturahim dan pembinaan terhadap masyarakat di wilayah Jumapolo, karena komunikasi sosial bersama komponen masyarakat ini hasilnya akan lebih efektif untuk merajut Persatuan dan Kesatuan ditengah Masa Pandemi Covid-19"

"Sehingga nantinya seluruh komponen masyarakat di kecamatan Jumapolo dapat menyebarkan hasil Komsos kepada warganya dan juga sebaliknya" Tegas Abdul Hanan.

"Maka oleh karenanya sebagai komponen masyarakat di kecamatan Jumapolo ini Saya berharap supaya teman-teman relawan dan lain-lain bisa segera dapat memberikan solusi yang baik, sehingga bisa menyelesaikan permasalahan ditengah-tengah masyarakat, terutama dalam penanganan wabah Covid-19 di kecamatan Jumapolo ini" Tambah Abdul Hanan.

"Selain itu, lebih penting lagi adalah komunikasi sosial yang dilaksanakan Koramil ini merupakan tugas dan tanggung jawab Babinsa untuk mengetahui perkembangan wilayah binaannya masing-masing, agar lebih mempererat hubungan antara Babinsa dan masyarakat" Jelas Danramil.

"Babinsa adalah ujung tombak nya Koramil di lapangan, maka kegiatan komsos yang dilaksanakan oleh Koramil ini dapat diterima dan membawa banyak pengaruh positif bagi masyarakat demi terwujudnya persatuan dan kesatuan, serta agar terhindar dari rusaknya sendi-sendi kehidupan manusia, termasuk idiologi bangsa" Lanjut Abdul Hanan.

Ditambahkan oleh Kapolsek  Jumapolo, AKP Sudirman, "bahwa selaku Komponen Masyarakat di Jumapolo ini saya berharap agar teman-teman semuanya bisa mengakomodir permasalahan- permasalahan yang ada di tingkat masyarakat jangan sampai masuk ke ranah hukum, yaitu bisa diselesaikan terlebih dahulu secara kekeluargaan"

"karena kalau sudah masuk keranah hukum dikhawatirkan justru akan menimbulkan permasalahan yang baru, sebab ada yang merasa tersakiti atau kecewa karna sanngksi hukum pidana/perdaya, yang efeknya akan merusak persatuan dan kesatuan masyarakat Jumapolo yang kita cintai ini, kalau jalur kekeluargaan tetap tidak menemui titik temu, maka mau tidak mau maka barulah diangkat kejalur hukum" Ujarnya.

"Dan Selain itu kita sebagai Komponen Masyarakat Kecamatan Jumapolo harus mengindahkan Instruksi Presiden Jokowi terkait PPKM Mikro, terutama ini menjadi tugas dan tanggung jawab Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jumapolo untuk mendata dan kemudian melaporkan segala hal atau permasalahan yang timbul karena Covid-19 termasuk supaya tidak bosam-bosannya untuk mengingatkan Prokes 5M" Tutup Sudirman. (Rizal PM/Oick)

LDII: Keluarga Adalah Pendidik Pertama dan Utama

ilustrasi
LINES | Hari Keluarga Nasional (Harganas) diperingati setiap 29 Juni. Untuk mengingatkan pentingnya peran dan nilai keluarga, sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat.
Harganas resmi ditetapkan pada 1992 oleh Presiden Soeharto. Namun akar peringatannya sendiri sudah ada sejak masa perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan.
Peringatan tahunan ini berawal dari penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 22 Juni 1949. Seminggu kemudian, tepatnya 29 Juni 1949, para pejuang pun pulang dan kembali kepada keluarganya.

Dikutip dari laman BKKBN, Indonesia memang menyatakan kemerdekaan pada 1945. Hanya saja, situasi tidak langsung kembali normal sehingga rakyat masih harus berjuang mempertahankan kemerdekaan. Wajib militer berjalan dan mereka harus berpisah dengan keluarga. Pengorbanan ini tidak sia-sia sebab pada 22 Juni 1949, Belanda menyerahkan kedaulatan bangsa Indonesia. Kemudian pada 29 Juni 1949, para pejuang kembali pada keluarga mereka.
Akan tetapi, tidak semua pejuang kembali dalam kondisi selamat. Keinginan kuat untuk menggantikan keluarga yang hilang akibat perang ditambah pengetahuan minim tentang usia perkawinan membuat pernikahan dini massif. Akibatnya, angka kematian ibu dan bayi begitu tinggi.

Harganas dibentuk sebagai peringatan kepada masyarakat Indonesia akan pentingnya keluarga. Keluarga dianggap memiliki peran besar sebagai upaya memperkuat ketahanan nasional dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Lewat Harganas, masyarakat Indonesia diingatkan bahwa keluarga sebagai kekuatan penting untuk membangun bangsa dan negara. Dari tahun ke tahun, peringatan Harganas mengusung tema berbeda. Tahun ini Harganas mengangkat tema 'Keluarga Keren Cegah Stunting'.

Dengan Harganas mengambil tema seputar stunting, diharapkan tumbuh kesadaran masyarakat bahwa stunting ini bukan persoalan sepele.
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dan berdampak pada kegagalan pertumbuhan otak akibat kekurangan gizi. Tidak hanya masalah pada kognisi, anak dengan stunting bisa meningkatkan risiko hipertensi, perlemakan hati, juga obesitas.

Ketua DPP LDII Dr. Siti Nurannisaa Parama Bekti, S.Sn, MPd mengatakan bahwa dalam pencegahan stunting, pengetahuan keluarga sangat berpengaruh pada perilaku pengaturan kesehatan dan gizi dalam kesehariannya.  

“Edukasi yang dilakukan secara berkala, memberikan pemahaman fungsi keluarga dapat menumbuhkan dan menginternalisasikan pola asuh, praktik, dan perilaku yang mengedepankan pengetahuan gizi. Dan juga tumbuh kembang anak sejak masa kehamilan dan pada 1.000 hari pertama kehidupan," ujarnya. 

Asupan gizi yang baik pada masa tersebut memberi dampak pada perkembangan kemampuan otak dan fisik, produktivitas dan kreativitas yang semakin optimal, “Pemberdayaan keluarga untuk membangun pola makan gizi seimbang, pola asuh, serta kesehatan sejak dini bisa menjadi salah satu upaya mencegah stunting, dan menjadi perilaku yang tertanam sebagai karakter yang sadar pada kesehatan dan gizi di generasi berikutnya,” tambah Siti Nurannissa.

LDII memandang bahwa bangsa yang kuat berasal dari generasi penerus yang terbina dengan baik.  "Dan keluarga merupakan kelompok terkecil dan terdekat dalam pembinaan generasi penerus yang saling berinteraksi selama 24 jam dalam 7 hari," tegas Ketua Umum DPP LDII, Ir. KH. Chriswanto Santoso, MSc.  "Keluarga adalah pendidik pertama dan utama. Sehingga perkembangan dari generasi yang terlahir fitrah sangat dipengaruhi oleh keluarga," lanjut Chriswanto.  

Ia menjelaskan bagaimana LDII menerapkan pembinaan keluarga dalam beberapa aspek dan tingkatan.  Mulai aspek budi pekerti, keilmuan hingga kesehatan, dan sejak cabe rawit (balita) hingga ke usia pra nikah.  "Bahkan yang telah menikah pun kami tetap arahkan dengan nasehat-nasehat keharmonisan keluarga, melalui forum-forum pengajian," imbuh Chriswanto.

Advokasi kesehatan keluarga, termasuk pencegahan stunting, saat ini, menurut Chriswanto, juga diupayakan melalui upaya swadaya di tingkat rumah tangga melalui kampanye tanaman obat keluarga yang sedang dicanangkan oleh DPP LDII melalui Departemen Peranan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga dan Departemen Pengabdian Masyarakat. (Rizal/Lines)

Sabtu, 26 Juni 2021

Ketum LDII: Mimpi Besar Kita Untuk Mewujudkan Indonesia Emas Terancam Gagal Gara-gara Narkoba

Ketua Umum LDII

Jakarta (25/6). Penyalahgunaan narkoba dan psikotropika bukan hanya merusak level individu, tapi juga sebuah bangsa. Bila pemerintah menggaungkan bonus demografi pada 2030, di mana jumlah usia produktif sangat besar. Impian itu bisa musnah bila milenial saat ini terpapar narkoba dan zat psikotropika.


“Inilah pentingnya kesadaran kolektif untuk mencegah dan memerangi penyalahgunaan narkoba dan psikotropika. Sebab, cita-cita mengenai masa depan Indonesia yang maju sejahtera pada 2030 bisa buyar hanya karena narkoba,” ujar Ketua DPP LDII KH Chriswanto Santoso. 


KH Chriswanto Santoso mendukung Hari Anti Narkotika Internasional (HANI), yang diperingati setiap tahun pada 26 Juni. Menurutnya, tema HANI 2021 adalah _War On Drugs_ atau perang melawan narkoba di masa pandemi Covid-19 menuju Indonesia Bersih Narkoba (BERSINAR), harus didukung semua pihak.


“Tema itu sudah tepat, penyalahgunaan narkoba dan psikotropika sudah jadi kejahatan ekstraordinasi atau luar biasa, bahkan kejahatan kemanusiaan. Indonesia bukan lagi jalur narkoba, sudah jadi pasar narkoba. Ini harus diperangi,” ujarnya.


Ada alasan yang sangat kuat, selain dari sisi agama dan moralitas dalam memerangi penyalahgunan narkoba. Ia menegaskan, semua elemen masyarakat termasuk ormas-ormas Islam, sedang menyiapkan kader-kader bangsa, “Kami di LDII membangun generasi profesional religius dengan program Tri Sukses, yakni generasi alim-faqih, berakhlak mulia, dan mandiri,” imbuhnya. 


Kader-kader bangsa itu, menurutnya akan berpartisipasi dalam membangun Indonesia Emas pada 2030. Bila generasi muda saat ini, rusak oleh narkoba dan psikotropika, bisa dibayangkan generasi seperti apa yang didapatkan Indonesia pada masa mendatang.


“Bahwa Indonesia Emas akan mewujudkan Indonesia yang maju, adil, sejahtera, dan makmur hanya jadi pepesan kosong bila generasi saat ini terkena obat-obatan terlarang,” ujarnya. 


Menurutnya, narkotika, psikotropika, dan zat aditif (NAPZA) sudah menjadi fenomena global dan merupakan ancaman kemanusiaan (_human threat_) bagi warga pada tingkat lokal, nasional, regional, dan global. “Indonesia tidak terkecuali, juga menghadapi ancaman serius terutama dari segi prevalensi pengguna yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” imbuhnya.


Peningkatan peredaran dan pengguna, menurutnya juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi, “Dengan internet, komunikasi antara pengguna, pengedar, dan pemasok dapat dengan mudah dilangsungkan, kapanpun dan di manapun,” tutur KH Chriswanto Santoso.


Menurutnya, perdagangan narkoba sudah berbentuk jaringan berskala besar dengan kekuatan organisasi, modal, kapasitas perdagangan yang bersifat transnasional. Internet dan sistem kerja yang kian berjejaring besar itu, menjadikan narkoba ancaman yang kompleks terhadap kemanusiaan. 


Pemerintah telah bertindak tegas dengan menghukum mati bandar-bandar narkoba internasional di Indonesia. Tapi, bila tiap keluarga tidak memiliki pengetahuan dan ketahanan, pemberantasan narkoba juga berat. Untuk itu, ia meminta para orangtua dan siapapun untuk selalu mendidik, membina, dan menjaga generasi muda dari ancaman narkoba dan psikotropika lainnya.



Dalam upaya mencegah penggunaan narkoba, LDII melarang warganya merokok, “Jumlah remaja perokok di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Masalahnya, merokok bukan hanya merusak kesehatan, tetapi merokok juga memuluskan jalan menggunakan narkoba. Boleh dikata, merokok adalah pintu menuju narkoba,” kata Ketua Departemen Pengabdian Masyarakat DPP LDII dr. H. Muslim Tadjuddin Chalid, Sp. An-KAKV.


Menurut Penasehat Forum Komunikasi Kesehatan Islam (FKKI) itu, nikotin dari tembakau memicu pelepasan dopamin yang membuat sesorang merasa bahagia. “Saat efek dopamin menurun, perokok dikhawatirkan akan berpindah ke narkoba yang juga bersifat adiksi. Mereka akan menemukan sensasi yang lebih kuat dibanding merokok. Inilah yang kerap mengantar orang menggunakan narkoba,” paparnya. 


Ia mengingatkan, narkoba dan psikotropika hanyalah kesenangan sesaat, bahaya bagi diri sendiri dan merugikan orang lain jauh lebih besar. Pecandu bisa mengalami sakit jiwa, bahkan kematian. Belum lagi tindak kriminal akibat kecanduan narkoba sangat merugikan orang lain.


Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) yang bertepatan pada 26 Juni 2021. Adapun tema HANI Tahun 2021 adalah “Perang Melawan Narkoba di Era Pandemi Covid 19 Menuju Indonesia Bersih Narkoba (BERSINAR)”.


Penetapan peringatan HANI dicanangkan oleh UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) Tahun 1987. Tujuan penyelenggaraan Hari Anti Narkoba Internasional yaitu memperkuat aksi dan kerjasama secara global dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya Narkoba.


Penyalahgunaan narkoba dan psikotropika bukan hanya merusak level individu, tapi juga sebuah bangsa. Bila pemerintah menggaungkan bonus demografi pada 2030, di mana jumlah usia produktif sangat besar. Impian itu bisa musnah bila milenial saat ini terpapar narkoba dan zat psikotropika.


Perlu kesadaran kolektif untuk mencegah dan memerangi penyalahgunaan narkoba dan psikotropika. Sebab, cita-cita mengenai masa depan Indonesia yang maju sejahtera pada 2030 bisa buyar hanya karena narkoba.


______________
Website : www.ldii.or.id dan www.nuansaonline.net
Youtube: LDII TV
Facebook : Lembaga Dakwah Islam Indonesia
Twitter: @ldii_news
Instagram: @ldii_news


#LDII


#LembagaDakwahIslamIndonesia 


#LDIIuntukBangsa


#profesionalreligius


#hariantinarkotika


#hani2021


#warnodrugs


#SayNoToDrugs


Senin, 14 Juni 2021

URGENT!!!, LDII Segera Laksanakan Amanat Presiden Jokowi


Jakarta (14/6). Presiden Joko Widodo mengamanatkan kepada DPP LDII untuk menyukseskan program vaksin nasional. Salah satunya, dengan mengajak masyarakat melakukan vaksin. Hal tersebut disambut Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso dengan menginisiasi pelaksanaan vaksinasi masal. Acara itu terlaksana berkat kerja sama antara DPP LDII, Dinas Kesehatan Provinisi DKI Jakarta, dan Ponpes Minhajurrosyiddin. 

“Amanat tersebut kami terima pada 5 Maret 2021, saat audiensi menjelang Munas IX LDII di Istana Bogor,” papar KH Chriswanto Santoso. Vaksinasi masal yang dilaksanakan di Padepokan Persinas ASAD, Pondok Gede, Jakarta Timur ini menargetkan 2.500 peserta. Agar tidak berkerumun, peserta vaksinasi masal dibatasi 500 orang setiap hari selama lima hari.

Dalam pantauan KH Chriswanto Santoso, alur vaksinasi masal jelas dan mempermudah peserta. Beberapa minggu sebelum vaksin, peserta sudah mendaftar lewat link yang disediakan panitia, “Menjelang hari vaksin, peserta mendapat pesan singkat jadwal giliran vaksin. Ini yang membuat vaksinasi masal tidak menimbulkan kerumunan,” ujarnya. 

Sesampai di lokasi, peserta cukup membawa KTP untuk mendaftar ulang. Sebelum divaksin, peserta dilakukan _screening_ terkait kondisi kesehatan dan penyakit penyerta oleh dokter, yang bertugas di lokasi, “Bahkan dokter yang bertugas meminta saya menelpon dokter pribadi di Surabaya untuk mengecek kondisi medis. Alhamdulillah dokter pribadi saya mengizinkan,” ujar Chriswanto Santoso. 

Setelah persyaratan terpenuhi, peserta vaksin pun disuntik vaksin. Usai divaksin, mereka diminta dokter yang bertugas untuk menunggu di pos observasi selama 20 menit. Setelah 20 menit berlalu tidak ada gejala yang menyertai pascavaksin, peserta diperbolehkan pulang.  

Menurut Chriswanto Santoso, DPP LDII mencari waktu yang tepat untuk mengadakan vaksinasi massal. Akhirnya, disepakati 14-17 Juni 2021. Ia mendorong semangat ormas-ormas lainnya, untuk melaksanakan vaksinasi massal untuk warga dan masyarakat pada umumnya. Menurutnya, Presiden Jokowi menargetkan 1 juta dosis vaksin setiap hari, “Ini perlu dukungan semua pihak untuk menciptakan kekebalan komunitas,” imbuhnya. 

“Kami memulai vaksinasi untuk menggerakkan kalangan masyarakat agar mau divaksin, sehingga krisis kesehatan ini segera berakhir. terkait kontroversi yang ada, vaksinasi itu tetap lebih baik dari pada tidak,” ujarnya. 

Chriswanto Santoso berharap agar masyarakat tidak takut divaksin. Menurutnya, vaksin ini tidak ada masalah karena sebetulnya segala sesuatunya sudah terukur. Seluruh dunia melakukan hal yang sama untuk mencapai _herd immunity_ global alias kekebalan komunitas global. 

“Semoga ini dapat menjadi pemicu untuk melaksanakan vaksinasi berikutnya dan jangan takut divaksin.  Selain kondisi kita harus fit, di sini juga dilakukan observasi untuk melihat apakah kita layak mendapatkan vaksin atau tidak. Itu saya kira, ayo semangat kita vaksinasi,” ujarnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur dr. Indra Setiawan dan Satgas Covid-19 Jakarta Timur drg. Indira Febrianti turut mengapresiasi langkah yang dilakukan LDII. Dokter Indra Setiawan yang meninjau titik vaksin yang terletak di kelurahan Lubang Buaya itu, mengatakan Padepokan Persinas ASAD di lingkungan Ponpes Minhajurrosyidin tersebut, bisa menjadi titik pelaksanaan vaksin berikutnya di Jakarta Timur. 

“Alhamdulillah pada pagi hari ini saya ke Ponpes Minhajurrosyiddin terkait vaksinasi dari teman-teman LDII. Saya sangat memberikan apresiasi yang luar biasa dengan tempat seperti ini, pengunjungnya sangat antusias, dan jumlah yang mau divaksin cukup besar,” ujarnya.

Sementara drg. Indira Febriyanti sangat senang karena LDII dapat membantu pemerintah menuju _herd imunity_ atau kekebalan kelompok. Sesuai dengan harapan pemerintah yang menargetkan 1 juta dosis vaksin per hari. 

“Saya terus terang sangat senang dan bahagia karena LDII bisa ikut dalam pelaksanaan vaksinasi ini. Kita juga mendapatkan dukungan penuh dari LDII. LDII dapat memberikan contoh kepada masyarakat mengenai vaksin ini. Jadi harapan saya, seluruh masyarakat bisa ikut dalam pelaksanaan vaksinasi dan dapat meraih _herd immunity_ secara cepat,” ujarnya. 

*Tetap Jaga Prokes Meski Sudah Divaksin*

Apakah vaksin bisa membuat kita kebal dari covid-19? Drg. Indira Febriyanti kembali memberi penjelasan. Vaksin ini sangat penting dikarenakan untuk menuju kekebalan kelompok. Hasil akhirnya dapat dapat menurunkan angka kematian dan juga menurunkan gejala yang berat bagi penderita Covid-19. 

“Kalau sudah vaksin bukan berarti tidak akan kena Covid-19. Namun tetap akan kena tetapi gejalanya ringan bahkan tidak bergejala sama sekali. Karena antibodi kita sudah mengenal si virus ini setelah kita divaksin,” jelasnya. 

Menurut drg. Indira Febriyanti, vaksin ini sangatlah aman. Sampai saat ini tidak ada masyarakat setelah mendapatkan vaksin mengalami gejala berat atau kematian. “Yang ada setelah divaksin mengalami gejala ringan mungkin demam atau sakit kepala atau diare. Dan itu hanya mengalami gejala yang ringan sekali dan tidak berlangsung lama, hanya satu atau dua hari setelah itu hilang,” tambahnya. 

Namun, ia menganjurkan untuk para komorbid agar konsultasi dengan dokter spesialis. Secara global, vaksin untuk para komorbit ini sangat dianjurkan karena para komorbitlah yang memiliki resiko besar. “Namun untuk komorbit yang tidak mendapatkan anjuran dari dokter pribadinya mungkin sedang dalam masa peradangan atau infeksi makanya tidak dianjurkan,” ujarnya.(Rizal/Lines)

Minggu, 13 Juni 2021

Tausiah Kebangsaan Waketum MUI Pusat Kepada 5.000an Warga LDII


LINES | Kediri (13/6). Pondok Pesantren Wali Barokah yang menjadi mitra strategis LDII dalam melahirkan juru dakwah, menghelat tausiyah kebangsaan. Sebagai narasumber utama Wakil  Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Dr KH Marsudi Syuhud, MA. Acara tersebut diikuti DPW dan DPD LDII di seluruh Indonesia secara daring. 

Acara tausiyah kebangsaan itu diikuti lebih dari 5.000 orang yang terdiri para ulama dan para pengurus LDII, serta perwakilan dari MUI di provinsi dan kabupaten/kota, “Tausiyah kebangsaan ini penting dalam kondisi keumatan yang menghadapi masalah yang kompleks dan multidimensi, kami membutuhkan pencerahan,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Wali Barokah, Drs KH Soenarto, M.Si

Sebagai pondok pesantren yang diamanati DPP LDII, untu menghasilkan juru dakwah menurut KH Soenarto, posisi Pondok Pesantren Wali Barokah sangat strategis, “Maka para juru dakwah itu, perlu dibekali ilmu agama yang kaffah, dan wawasan kebangsaan yang kuat dan mantap,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, KH Marsudi Syuhud didampingi Wakil Sekjen DP MUI Arif Fahrudin M.Ag, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan DP MUI Prof Dr H Firdaus Syam, M.A, Sekretaris Dr Ali Abdillah. 

Sementara itu dalam sambutannya, Ketua Umum DPP LDII Ir KH Chriswanto Santoso, M.Si mengemukakan pentingnya menjalin silaturahim. Dengan silaturahim itu, para tokoh agama bisa turut memikirkan bangsa dan negara sebagai kontribusi untuk menjadikan Indonesia negeri yang makmur penug rahmat dari Allah.

“Tausiyah ini jadi penting untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, agar ukhuwah wathoniyah juga kuat, dan ketiga ukhuwah basariyah terjaga. Para pendiri bangsa mendirikan negeri ini atas perbedaan yang tak bisa dihindari, dan para ulama menjadi motor penggerak perjuangan. Dari perbedaan itu, justru kita menyatu,” pungkas KH Chriswanto Santoso. 

Menurut Chrsiwanto Santoso, di tengah era digital ini, internet mempermudah lalu-lalang informasi. Namun teknologi itu, juga mempermudah fitnah menyebar, “Digitalisasi memungkinkan menulis atau mengubah suara menjadi saya, padahal pesan-pesannya bukan dari saya. Ini bisa mendatangkan fitnah dan perpecahan umat,” ujar Chriswanto Santoso. Ia mengingatkan, para pendiri membentuk LDII bertjuan untuk berkontribusi kepada umat, bangsa, dan negara secara positif. 

“Kami memiliki delapan program kerja yang diselaraskan dengan program nasional, agar menjadi solusi. LDII harus mendukung bangsa dan negara dan memberi solusi terutama masalah kebangsaan. Bila Indonesia goyang, LDII turut ikut sempoyongan,” ujar KH Chriswanto Santoso. 

Dalam tausiyah kebangsaan, Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, menekankan pentingnya keterhubungan antar manusia, “Sehingga antarmanusia terhubung rohani, pikiran, amaliyah dan berbagai hal lainnya, ketika semuanya nyambung, keberkahan itu hadir,” ujarnya. Keterhubungan itu, menurutnya sudah dicontohkan Rasulullah SAW dalam membangun negara kecil bernama Madinah, yang tertuang dalam Piagam Madinah. 

Dalam pandangannya, Rasulullah mendirikan negeri Madinah sebagai negara untuk menyambung, mengikat masyarakat di dalamnya untuk hidup bersama meskipun tidak satu agama, “Islamnya saja ada golongan Muhajirin ada Ansor, ada Yahudi, Nasrani, dan Majusi yang bukan agama samawi. Dari beragam agama itu diikat untuk menyatukan perbedaan,” imbuhnya. 

Sebagai penyatu perbedaan, Rasulullah memiliki kemampuan yang mumpuni sebagai hakim, jenderal ketika perang, hingga mengurus ketertiban, “Bahkan Rasulullah sampai mengurusi akhlak,” ujarnya.

Saat Turki Utsmani runtuh, negara-negara memisahkan diri dan para tokohnya bermusyawarah dan berijtihad mengenai negara mereka, “Pada 1936 Nahdlatul Ulama dalam Muktamar 1936 sudah membahas bentuk negara Indonesia. Berangkat dari musyawarah itulah lahirlah dasar negara,” ujarnya. Kemudian, Pancasila ditetapkan menjadi dasar negara atas musyawarah. 

“Jadi bila ada yang bertanya pilih Alquran atau Pancasila, itu sama halnya menanyakan bumbu pecel tumpang atau pecel tumpang, bakso atau buletan bakso,” ujarnya. Artinya, Pancasila itu terdapat dalam Alquran. Maka tugas pemerintah adalah menyambungkan hukum yang tetap berupa Alquran dan Sunnah ke dalam aturan-aturan, demi kemaslahatan umat. 

“Alquran dan Sunnah itu hukum yang tetap, sementara masalah terus tumbuh dan berkembang, maka pemerintah tinggal membuat aturan untuk kemaslahatan. Lampu lalu lintas tidak ada dalam Alquran dan Alhadits, namun karena maslahat untuk umat manusia, maka itu sudah memenuhi aturan yang syariah,” ujarnya. 

Ia memisalkan lagi, mengenai wabah Covid-19. “Rasulullah menyuruh kita waspada dan lari sebagaimana waspada terhadap singa. Maka aturan turunannya ya lockdown dan bansos. Negeri ini tentu ada kekurangannya, maka kekurangannya yang diperbaiki bukan membubarkan negerinya,” ujarnya. 

Ia menekankan, konteks hubungan negara dan agama terdapat dalam tiga hal. Pertama, negara harus mampu membuat hubungan antara hukum tetap (Alquran dan Alhadist) dengan produk undang-undang yang dihasilkan negara, “Aturan yang dibuat negara harus bermanfaat dan mengurangi kemaksiatan atau kekacauan,” ujarnya.

Kedua, bernegara itu harus bisa menyatukan maslahat umum dan individu, “Contohnya pajak, hasil pajak bermanfaat untuk kepentingan umum. Namun adakalanya masyarakat dalam kondisi tak mampu bayar pajak, maka aturannya diubah bisa afirmasi atau tax holiday,” pungkasnya. 

Dan yang ketiga, menyatukan atau merukunkan kepentingan materi dan rohani, “Saat negara memperbolehkan salat, puasa, haji, dan ibadah-ibadah lainnya bahkan mengurusinya maka sudah syariah. Meskipun bakal ada tabrakan antara syariah dan maksiat, misalnya ada korupsi bantuan sosial, maka korupsinya dibasmi bukan bantuan sosialnya yang dihilangkan,” ujarnya. 

Ia mengingatkan, negara yang didasari musyawarah, maka hukumnya wahib menjaga kesepakatan atau produk musyarawag tersebut. Apa yang kurang dari negeri ini, ia berpesan untuk diperbaiki bersama, “Bukan negaranya yang dirobohkan,” pungkasnya. Ia juga meminta semua bersyukur atas rahmat Allah kepada Indonesia, yang aman dan tenteram.

“Lebih baik menjadi orang miskin di negeri yang kuat dan kaya, ketimbang menjadi orang kaya di negeri yang barbar, penuh ancaman, dan ketidakpastian,” ujarnya. (Rizal PM/LINES)

Sabtu, 05 Juni 2021

DPW LDII Provinsi Lampung Hadiri Silaturrohim Dengan Danrem 043 Gatam Lampung


Korem 043 Gatam Lampung selenggarakan Komunikasi Sosial, Silaturahmi Danrem 043 Gatam Lampung dengan komponen masyarakat, dengan mengambil tema"Merajut Persatuan dan Kesatuan Bangsa", di Aula Sudirman Makorem 043 Gatam, 4 Juni 2021.

dr. Aditya (ketua) didampingi Heri Sensus tadi sekretaris DPW LDII Provinsi Lampung turut hadir dalam acara tersebut.

Dalam sambutannya Danrem 043 Gatam Brigjen TNI Drajat Bima Yoga, SIP. MH menyampaikan,kita masih dalam kondisi pandemi covid-19 mari kita bersama-sama melalui para tokoh-tokoh dan ormas keagamaan mencegah penyebaran covid-19, memberikan pencerahan kepada masyarakat, agar tetap mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilisasi.

Dalam era globalisasi pengguna mensos sangat tinggi, untuk itu jangan mudah terprovokasi berita-berita hoax, karena dapat memecahkan belah umat, dapat menebar kebencian,  diharapkan para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, ormas keagamaan sebagai komponen masyarakat ikut serta dalam mencegahan faham radikalisme, terorisme, intolerasi, karena dapat merusak sendi-sendi kehidupan dimasyarakat, mari kita tingkatkan persatuan dan kesatuan dengan mengedepankan budaya kearifan lokal ujar jendral  Drajat Brima Yoga.

Dalam diskusi Ketua DPW LDII Lampung Aditya agar Korem 043 Gatam dapat  menyelenggarakan pendidikan bela negara, baik secara daring/online ataupun offline, karena melalui pendidikan bela negara dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air.

Hadir dalam acara tersebut kaban Kesbangpol (Drs. Firsada, MH), ketua NU, Ketua Muhammadiyah, ketua MUI, Ketua LDII,  ketua FKUB, PGI, PHDI, Keuskupan, ketua ICMI, Laskar Merah Putih, BEM Unila, BEM UBL, BEM Teknokrat, Paku Banten. (Heri/Rizal PM/Lines)

Jumat, 04 Juni 2021

Bupati Tulang Bawang Ajak LDII Berdiskusi Tentang Kerukunan Umat Beragama


                                                                                  LINES | TULANG BAWANG (2/6/21)Bertempat diruang serba guna kantor Bupati Tulang Bawang, Bupati Dr Winarti, SH., MH mengajak Pimpinan Ormas Lintas Agama dan juga Ketua Adat se-Tulang Bawang berdiskusi serta mengevaluasi 25 program kerja prioritas yang menjadi janji kampanyenya saat mencalonkan diri sebagai kepala daerah beberapa tahun silam. Hadir dari LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) Sutino, Spd.I Ketua dan Sriyanto Sekretaris DPD LDII Tulang Bawang.

Dalam kesempatan itu Bupati menyampaikan pencapaian kerja selama 3 tahun 6 bulan yang sudah terealisasi mengacu pada 25 program prioritas dalam janji kampayenya, sementara kedepan Winarti tetap akan melanjutkan semua program kerja sampai tuntas walaupun program tersebut secara kompensasi politik tidak populer apabila menyangkut kepentingan sosial dan hajat hidup orang banyak, "saya tetap akan konsisten dan berkomitmen menuntaskanya karena menjadi pemimpin daerah itu bukan hanya urusan politik tapi ada hal yang lebih penting yaitu urusan kemanusiaan" jelas Winarti.

Guna menciptakan kerukunan antar umat beragama, Bupati berencana membangun taman kerukunan umat beragama di kampung Simpang Penawar, kecamatan Banjar Margo, taman yang rencananya segera dibangun dan diagendakan selesai akhir tahun ini mempunyai luas sekitar 4 ha, dan akan menjadi salah satu ikon kabupaten Tulang Bawang, sebagai wujud nyata komitmen pemerintah dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. Sementara guna menunjang peningkatan ekonomi masyarakat akan diperbaiki jalan lintas unit 2 sampai Rawapitu dan Simpang Penawar sampai Rawajitu. (Rizal/Lines)