Senin, 20 Desember 2021

DPP LDII: Individualisme Tak Punya Tempat di Negeri Ini


LDII, Jakarta (20/12) - Menyambut Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional yang jatuh pada 20 Desember, DPP LDII mengajak seluruh elemen bangsa terus bekerja sama dalam berbagai bidang. Kerja sama tersebut dilandasi dengan kesetiakawanan dan persaudaraan sebagai anak bangsa.

“Dalam dua tahun belakangan, kita memperingati Hari Kesetiakawanan Sosial dengan lebih intens dan mendalam. Covid-19 memberi hikmah besar kepada bangsa Indonesia untuk lebih peduli dengan sesama, membantu yang lain,” papar Sekretaris Umum DPP LDII, Dody T. Wijaya.

Konsep kesetiakawanan sosial dalam Islam diwujudkan dengan silaturahim. Menurut Dody dalam silaturahim, tak sekadar menyambung persaudaraan atau mengakrabkan sesama, tapi lebih peduli, “Peduli atas kesulitan mereka, peduli atas kesusahan dan kesedihan yang diwujudkan dengan membantu meringankan beban saudara, kawan, tetangga,” pungkasnya.

Bila hal tersebut dilakukan secara nasional, akan membentuk ketahanan masyarakat dalam menghadapi persoalan bangsa, terutama wabah Covid-19 yang menimbulkan krisis ekonomi dan kesehatan dunia. 

“Dalam kondisi normal, apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini individualisme tak mendapatkan tempat,” ujar Dody. Individualisme yang cenderung menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya juga tidak selaras dengan ideologi bangsa, Pancasila. Dody mengatakan, hakikinya bangsa Indonesia adalah masyarakat yang mengedepankan gotong-royong, tolong-menolong, saling menghargai dan menghormati. Maka tak ada tempat untuk individualisme.

Ia mengingatkan, mereka yang mengambil keuntungan yang tak wajar atas pandemi saat ini adalah mereka yang mengedepankan individualisme, “Apalagi para pejabat atau lembaga yang berkaitan dengan kesehatan, bila melakukan korupsi terkait Covid-19, sama halnya tak memiliki rasa kesetiakawanan sosial bahkan kemanusiaan,” tegasnya. 

Dody mendorong kesetiakawanan sosial hari ini diwujudkan dengan mengasah kepedulian, “Tengoklah kerabat kita atau kawan-kawan yang sedang kesulitan. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Jadi, dengan membantu sesama akan menciptakan kenyamanan hidup di berbagai bidang,” paparnya.

Bantuan permodalan misalnya, akan menciptakan lapangan kerja yang mengangkat kemakmuran orang lain. Dengan kemakmuran itu, bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang dirasakan semua orang, “Pada dasarnya membagi pengetahuan dalam berbisnis di sebuah komunitas akan mendorong saling kerja sama dalam ekonomi, ini menciptakan daya tahan saat ekonomi sedang terpuruk,” ujarnya.

Paradigma kompetisi dalam momentum Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional ini harus diubah menjadi kerja sama. Dengan kerja sama itulah menurut Dody, segala kesulitan bisa diatasi. Termasuk membantu permodalan, sumber daya, dan membuka pasar-pasar baru yang kini sangat mudah dengan adanya internet, “Dengan demikian Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional ini menjadi lebih bermakna, dan menjadi momentum kebangkitan Indonesia pada 2022,” pungkasnya. (kim/Rizal PM)

Selasa, 14 Desember 2021

DPP LDII, Bangsa Ini Berterimakasih Kepada Profesor Mochtar Kusumaatmadja


Jakarta (13/12). Setiap 13 Desember bangsa Indonesia memperingati Hari Nusantara. Peringatan itu merupakan penghormatan kepada jasa Kabinet Juanda, yang pada 13 Desember 1957, mendeklarasikan batas kedaulatan laut nasional sepanjang 12 mile dari garis pantai terluar. Dan, terutama laut pedalaman menjadi wilayah kedaulatan Indonesia secara utuh.

“Kabinet Juanda berjasa dengan Deklarasi Juanda yang mengubah luas laut Indonesia. Sebelumnya, Indonesia waktu itu menggunakan Ordinansi Belanda tahun 1939, untuk menentukan batas laut, territorial Hindia Belanda adalah 3 mile diukur dari garis air surut dari pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang merupakan bagian dari wilayah daratan,” ujar Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, Singgih Tri Sulistiyono. 

Deklarasi Juanda yang diumumkan kepada dunia pada 13 Desember 1957 tersebut, bertujuan untuk membendung kehadiran Angkatan Laut Belanda yang mondar-mandir di Laut Jawa. Mereka berusaha mempertahankan kekuasaannya, dengan menghadirkan armada perang di laut pedalaman nusantara, “Saat itu armada perang pemerintah yang minim tak mampu menandingi Belanda. Selain itu, pelayaran kapal-kapal perang itu legal karena berada di perairan nusantara. 

Deklarasi Juanda mengubah segalanya. Deklarasi itu mengubah konsep tradisional yang berpandangan teritorial terpaku pada daratan, “Bangsa ini berterimakasih kepada Profesor Mochtar Kusumaatmadja, yang dengan pemikirannya berhasil menerapkan prinsip ‘tanah’ air atau konsep konsep 'nusantara' yang memandang kedaulatan darat (kepulauan) dan laut sebagai satu kesatuan,” papar Singgih. 

Menurut Singgih yang juga Ketua DPP LDII, konsep Wawasan Nusantara berawal dari upaya Profesor Mochtar yang pada waktu itu menyadari betapa pentingnya kesatuan negara Indonesia, untuk menetapkan batas teritorial laut Indonesia melalui Deklarasi Djuanda pada 1957. Setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya pada 1982 konsep Wawasan Nusantara yang dianggap sepadan dengan konsep Archipelagic State menjadi bagian integral dari United Nations Conventions on the Law of the Sea (UNCLOS). 

Sejak saat itu, bentuk negara kepulauan mulai diakui dan dikenal dunia. Pengakuan ini juga berdampak positif bagi Indonesia di mana luas wilayah NKRI bertambah luas dua kali lipat lebih tanpa pertumpahan darah. Untuk itu, DPP LDII mendukung pandangan berbagai pihak yang menempatkan Mochtar Kusumaatmadja sebagai ‘Pejuang Hak Laut Indononesia’.

Menurut Singgih, Mochtar Kusumaatmadja memiliki rujukan yang kuat mengenai konsep Wawasan Nusantara. “Seperti diketahui bahwa Mochtar telah mengambil spesialisasi dalam hukum internasional di Universitas Indonesia. Ia juga menerima gelar LLM dari Yale Law School. Selama belajar di Yale, ia mendapatkan pengaruh kuat dari Myres McDougal yang pada waktu memberikan kuliah Hukum Internasional mengkaji kasus The Anglo-Norwegian Fisheries Case 1949,” ujarnya.

Namun yang dirumuskan oleh Mochtar ternyata jauh melampaui ekspektasi baik dari Tim Interdeparmental yang diketuai oleh Pirngadi, yang menghendaki luas laut territorial dari 3 mile menjadi 12 mile, maupun ekspektasi dari Menteri Chaerul Shaleh yang menghendaki agar Laut Jawa menjadi Laut Pedalaman Indonesia. Sehingga tidak lagi bisa digunakan oleh kapal-kapal asing (terutama Belanda) untuk kepentingan yang merugikan Indonesia.

Bahkan juga agar Laut Jawa tidak lagi digunakan seenaknya untuk laihan perang oleh Pakta Pertahanan Asia Tenggara (SEATO). Menurut Singgih, dengan jenius Mochtar menggambar di atas peta yang ia miliki, berupa straight baseline atau garis dasar lurus yang ditarik dari satu titik terluar ke titik terluar lain, dari wilayah darat atau pulau yang dikuasai oleh Indonesia.  

“Ini sering disebut sebagai metode point to point. Hasilnya luar biasa, wilayah Indonesia baik daratan maupun lautan semacam diikat oleh sabuk straight baseline sehingga tampak dengan kasat mata bagaimana wilayah perairan dan daratan (pulau) merupakan satu kesatuan. “Ini melebihi apa yang diharapkan Chaerul Shaleh karena bukan hanya Laut Jawa tetapi juga Laut Flores, Laut Banda, Laut Arafura menjadi wilayah Laut Pedalaman Indonesia yang berada sepenuhnya di bawah kepemilikan Indonesia,” ujarnya. 

Demikian juga desain Mochtar juga sudah memenuhi harapan Tim Interdepartemental yang menghendaki luar Laut Teritorial diperluas dari 3 mile menjadi 12 mile. Dalam hal ini Mochtar juga mengkonsep Laut Teritorial 12 mile ditarik dari straight baseline. Dan inilah yang saat ini bangsa Indonesia miliki. 

“Dengan potensi kekayaan alam laut Rp3.000 triliun per tahun, PR kita sekarang adalah merawat, memanfaatkan dan mengembangkan apa yang telah dirintis oleh Profesor Mochtar. Jangan sampai warisan yang merupakan hasil pemikiran yang brilian ini hancur, karena salah urus dan niat yang melenceng dari cita-cita luhur para pendiri bangsa,” pungkas Singgih. (Rizal PM/KIM)

PSSI Apresiasi Festival Grassroot DPP LDII


DPP LDII - Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) menghelat Festival Grassroot bekerja sama dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bertempat di Lapangan Sepak Bola Pondok Pesantren Minhaajurrosyidin, Cipayung, Jakarta Timur.

Kegiatan tersebut diikuti oleh para pegiat sepak bola usia dini rentang umur 10 hingga 12 tahun dengan memperkenalkan sepak bola kepada anak-anak dengan metode gembira dan bersenang-senang. Selain itu, terdapat sosialisasi mengenai target dari pengembangan grassroot kepada para wali yang hadir untuk mendampingi para peserta.

Turut hadir Aldi Iqbal selaku Manager Grassroot Departemen Teknik PSSI untuk memberikan sosialisasi sekaligus memberikan bimbingan kepada para peserta dalam kegiatan ini. Aldi menjelaskan bahwa di Indonesia, sepak bola grassgroot belum terlalu dikenal oleh masyarakat mulai dari penerapan dalam latihannya dan proses pengenalan karakter anak.

Grassroot merupakan salah satu program dari Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk mengajak anak-anak diseluruh dunia untuk bermain sepakbola. “Anak-anak harus diberikan pelatihan yang menyenangkan dan dihadirkan coach educator yang interaktif sehingga anak-anak tidak akan bosan dengan sepak bola bahkan mencintai sepak bola sejak kecil hingga dewasa,” tambah Aldi.

Mengenai fenomena pembinaan sepak bola usia dini di Indonesia, Aldi memberi tanggapan bahwa kadang kala pelatih memberikan ekspektasi tinggi kepada para anak-anak dan beranggapan bahwa mereka telah berada di top level. “Hal tersebut tentu dapat memberikan anggapan kepada anak-anak bahwa sepak bola tidak menyenangkan karena terlalu banyak mendapatkan tekanan dari pelatih,” ucapnya.

Selain itu, Aldi mengapresiasi terhadap pelaksanaan festival grassroot yang dilaksanakan oleh DPP LDII. “Harapannya, dengan gerakan yang telah dilaksanakan oleh DPP LDII dapat memicu semua stakeholder yang terlibat di sepakbola dapat ikut turut menyelenggarakan dan mengenalkan sepakbola grassroot”, pungkas Aldi.

Menanggapi pelaksanaan kegiatan ini, Edwin Sumiroza selaku Ketua DPP LDII Koordinator Bidang Pemuda, Kepanduan, Olahraga, Seni dan Budaya (PKOSB) menjelaskan bahwa sepakbola dapat menjadi salah satu sarana untuk mengembangkan karakter dari generasi penerus Indonesia ke depannya. 

“Banyak sekali pesan yang dapat diambil dari sepak bola dalam peningkatan karakter terlebih dalam hal kejujuran bahkan hingga Amanah. Seperti contoh, apabila seseorang pemain sudah ditempatkan di suatu area maka pemain tersebut perlu untuk mengembangkan amanah dan juga tanggung jawabnya untuk memenangkan sebuah pertandingan,” jelas Edwin.

Kegiatan ini merupakan pilot project yang dilaksanakan di area Jabodetabek oleh DPP LDII, ke depannya di daerah lain akan mulai dikembangkan untuk mengajak para usia dini mengembangkan karakternya dengan cara yang menyenangkan. “Tidak perlu seorang anak menjadi juara secara terus menerus namun dengan menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter baik itu jauh lebih penting untuk kita semua. Harapannya, sepak bola dapat menjadi wahana pembinaan generasi penerus yang sangat efektif, murah dan dapat dilaksanakan di seluruh Indonesia,” pungkas Edwin. (Rizal PM/KIM)

Senin, 13 Desember 2021

Sako SPN DIY Gelar 'Gelang Ajar' bagi Pembina Pramuka




JOGJA - Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) DIY menghelat 'Gelang' Ajar bagi para pembina pramuka di Bumi Perkemahan Dewaruci Bantul Yogyakarta, Sabtu (11/12/2021).

Kegiatan yang diikuti 40 orang peserta dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Sakoda SPN DIY Kak Drs. H. M. Geyol Sugianto, M.Si. Kak Geyol menekankan pentingnya meneruskan keselarasan Sako SPN dengan visi misi DPP LDII yang selama ini telah terjalin dengan baik. "Sako diharapkan turut berkontribusi melalui delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa," harapnya.

Sedangkan Kak Alek Rahmad selaku Wakil Ketua Pinsakoda SPN DIY menjelaskan bahwa target pembinaan generus LDII adalah membentuk manusia yang berkarakter Tri Sukses (alim-faqih, berakhlakul karimah dan mandiri) disertai dengan enam tabiat luhur (jujur, amanah, mujhid muzhid, rukun, kompak dan kerja sama yang baik).

"Sako SPN DIY akan mengimplementasikan delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa, sesuai dengan arahan DPP LDII," jelasnya yang juga anggota biro Pemuda, Kepanduan, Olahraga, Seni dan Budaya (PKOSB) DPW LDII DIY.

Acara Gelang Ajar diisi tiga orang narasumber yaitu Kak Sarjito dari Sakoda SPN DIY serta dua orang narasumber dari Pusdiklatcab Bantul Kak Heru Supranoto dan Kak Tanti Sadmawati. "Pendidikan kepramukaan adalah proses pembentukan kepribadian, sedangkan kecakapan hidup dan akhlak mulia melalui penghayatan dan pengamalan nilai nilai kepramukaan" demikian dijelaskan Kak Heru.

Adapun Kak Tanti menyampaikan bahwa materi Gelang Ajar ini bersifat mengulang dan penyegaran dari materi KMD. "Pembina Pramuka harus memahami tentang SKU, SKK dan SPG.
Kami mempersilahkan jika para pembina pramuka dari Sako SPN akan melanjutkan ke Kursus Mahir Lanjut (KML), Kwarcab Bantul siap mendukung," ungkapnya.

Di akhir acara, Kak Alek sebagai Wakil Ketua Pinsakoda DIY berpesan agar program kerja para pembina sako SPN bisa sinkron dan selaras dengan program kerja kwartir pramuka di tingkatan masing masing. (Rizal PM/Uyun)

Bupati Gunung Kidul Apresiasi Nilai Kebangsaan LDII


YOGYAKARTA - DPD LDII Kabupaten Gunungkidul menghelat Musyawarah Daerah (Musda) VII di Bangsal Sewokoprojo guna mempertanggungjawabkan kinerja kepengurusan masa bakti 2016-2021 serta pembentukan kepengurusan baru DPD LDII Kabupaten Gunungkidul, Minggu (12/12/2021).

Dengan tema ‘Penguatan SDM Profesional Religius untuk Ketahanan dan Kemandirian Bangsa Mewujudkan Taraf Hidup yang Bermasyarakat dan Bermartabat', Musda diikuti kurang lebih 100 peserta.

Hadir Bupati Gunungkidul H. Sunaryanta, Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., MUI Gunungkidul, Kanwil Kemenag Gunungkidul, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Gunungkidul, Pimpinan Ormas se-Kabupaten Gunungkidul, Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga Gunungkidul, dan Pimpinan PC LDII se-Kabupaten Gunungkidul.

Dalam sambutannya, Atus Syahbudin menilai bahwa DPD LDII Gunungkidul merupakan organisasi yang sehat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Musda yang dilaksanakan sebelum kepengurusan DPD LDII berakhir.

“Saya berani katakan, LDII Gunungkidul berarti organisasi yang sehat. Mengapa? Karena berhasil menyelenggarakan Musda sebelum surat keputusan berakhir,” paparnya.

Disebutkan Atus, bahwa visi misi LDII dan Pemkab Gunungkidul selaras. Dosen Fakultas Kehutanan UGM ini pun mengajak LDII Gunungkidul untuk membantu dan berkontribusi dalam melaksanakan program pemerintah.

"Mari bantu pemerintah daerah, karena LDII dengan visi misinya profesional religius dan delapan bidang pengabdian itu plek dengan Pemerintah Gunungkidul," tegas Atus Syahbudin.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul H. Sunaryanta dalam sambutannya mengapresiasi kontribusi LDII Gunungkidul selama ini dan mendukung tema yang diangkat dalam Musda.

“Kalau bicara LDII sudah pasti tentang kebangsaan ini sudah tidak diragukan lagi. Jadi yang pertama keagamaan, kedua kebangsaan, dan ketiga kemandirian ekonomi. Ini ketiganya sangat penting,” paparnya.

H. Sunaryanta juga mengucapkan selamat dan menyampaikan harapannya terkait pelaksanaan Musda LDII Gunungkidul.

“Selamat atas musyawarah daerah yang ketujuh ini. Mudah-mudahan nanti di era kepemimpinan yang baru mendapat sosok pemimpin yang bisa membawa LDII Gunungkidul lebih berkembang. Dan yang lebih penting lagi, bisa bermanfaat bagi seluruh masyarakat Gunungkidul,” pungkasnya.

Musda VII LDII Gunungkidul resmi dibuka Bupati H. Sunaryanta yang ditandai dengan pemukulan gong. (Rizal PM/Lines) 

Sebagai Sumber Kehidupan dan Penghidupan, DPP LDII Gelar Gerakan LDII Tanam Pohon 2021


Jakarta (12/12). Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menggelar "Gerakan LDII Tanam Pohon & Webinar" bertema “Pohon sebagai Sumber Kehidupan dan Penghidupan”. Kegiatan ini bekerja sama dengan Ponpes Minhaajurrosyidin, STAIMI (Sekolah Tinggi Agama Islam Minhaajurrosyidiin), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, MUI (Majelis Ulama Indonesia) DKI Jakarta  Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, dan Yayasan Inspirasi Keluarga KeSEMaT (IKAMaT) pada Minggu, 12 Desember 2021. 


Acara ini dilaksanakan secara luring di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidin, dan diikuti secara daring oleh pengurus DPP, pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII se-Indonesia, anggota Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM), santri serta pelajar dari pondok pesantren dan sekolah, juga para pemerhati lingkungan. Hadir pula Ketua Umum MUI DKI Jakarta KH.Munahar Muhtar.

Ketua DPP LDII Bidang Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) Teddy Suratmadji yang mewakili Ketua Umum DPP LDII Chriswanto Santoso mengatakan, pada tahun 2018, data dari lingkungan hidup menerangkan terdapat 14 juta lebih hektar hutan dan lahan kritis yang bila tidak direboisasi, akan musnah. Akibat hutan yang gundul, timbul bencana yang  didominasi oleh banjir dan longsor sebesar 40 persen. 

Hal ini diakibatkan banyaknya permukaan tanah yang terbuka, dan pada saat  hujan lebat menyebabkan air dominan lari ke sungai. "Jika sungai tidak mampu menampung maka terjadilah banjir dan longsor," ungkap Teddy.

“Oleh karena itu kegiatan penanaman pohon akan dapat sangat membantu upaya Pemprov DKI dalam mengurangi bencana banjir dan longsor. Kiprah LDII dalam Go Green sudah dimulai sejak tahun 2008, yang waktu itu dicetuskan di Jawa Timur bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur,” jelas Teddy.

Teddy mengatakan, LDII sebagai organisasi masyarakat keagamaan yang peduli terhadap kelestarian lingkungan serta keselamatan generasi yang akan datang, sangat mendukung dan berkontribusi melalui “Gerakan LDII Tanam Pohon 2021”. Gerakan tersebut  telah diluncurkan pada 28 November 2021. Kemudian dilanjutkan dengan mengajak seluruh warga LDII dan masyarakat umum, untuk melakukan aksi penanaman pohon selama bulan Desember 2021.

Hal tersebut sebagai bentuk dukungan bulan menanam nasional, yang diadakan LDII di Yogyakarta, kemudian di Riau, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan sekarang di DKI Jakarta. 

Selain penanaman perdana, di hari yang sama diadakan webinar dengan tema yang sama dengan mendatangkan pakar dari IPB, Yayasan IKAMaT, dan DPP LDII. 

Sebagai sumber kehidupan, pohon penghasil oksigen, penyerap karbon dioksida dan penyimpan air tanah. Pepohonan dapat juga memberikan nilai tambah ekonomi melalui hasil panen yang didapat dalam bentuk buah-buahan dan produk lainnya. 

Teddy menyampaikan LDII ingin membantu masyarakat dan pemerintah dalam usaha mengkonversi buah-buahan langka dari Betawi yang saat ini mulai sulit ditemukan. Pohon-pohon tersebut di antaranya pohon bisbul, pohon menteng, dan lain-lain. Di hari yang sama pohon-pohon tersebut akan ditanam bersama, dipelihara sampai berbuah hingga menjadi sumber penghidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Menyitir sebuah hadits dari Anas bin Malik, "Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tanaman, kemudian tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan menjadi shodaqoh baginya. Harapannya,  aksi tanam pohon ini juga dapat menjadi amal jariyah selama pohon itu tumbuh, berbuah dan dimakan," kata Teddy.

KPKP: LDII Ikut Lestarikan Tanaman Langka Berkualitas

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan & Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, yang diwakili oleh Kasudin KPKP Jakarta Timur Ali Nurdin membuka webinar secara resmi. “KPKP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan penanaman pohon dan webinar ini, karena di Jakarta banyak tanaman langka yang bagus mutu dan kualitasnya sehingga perlu dilestarikan,” ujar Ali.

Ali menjelaskan bahwa pohon sebagai sumber kehidupan, dapat menghasilkan oksigen 130 kg dalam setahun. Pohon sebagai sumber penghidupan, baik tanaman pelindung maupun produktif sangat bermanfaat bagi kita semua.

Dalam webinar tersebut, Ketua Harian Yayasan Ponpes Minhaajurrosyidiin KH.Asy'ari Akbar turut menyampaikan sambutan selamat datang saat mengawali acara tersebut.

“Alhamdulillah kami sangat bersyukur bahwa pondok ini ditunjuk oleh DPP LDII sebagai lokasi gerakan menanam pohon. Ini sangat sejalan dengan apa yang sudah kami lakukan. Di samping ada pendidikan, salah satu yang kita tanamkan adalah peduli lingkungan. Ada tempat pengelolaan sampah terpadu sehingga zero waste, tidak berbekas, juga upgrade sampah menjadi aset, dan urban farming,” ujar Asy’ari.

Ia berharap selain kompeten dalam ilmu agama, anak didik dan santri-santri Ponpes Minhaajurrosyidin saat keluar dari pondok nanti setidaknya memiliki keahlian skill yang berkaitan dengan peduli lingkungan.

Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan & Pertanian DKI Jakarta, Kepala Dinas Pertamanan & Hutan Kota DKI Jakarta, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Kakanwil Kemenag DKI Jakarta. Hadir pula Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan DKI, Kepala BPDAS Ciliwung Citarum, Ketua PHDI DKI Jakarta, Ketua MATAKIN DKI Jakarta, Ketua PGI DKI Jakarta, Ketua KWI DKI Jakarta, Ketua Walubi DKI Jakarta, Ketua DPD LDII Kota se-DKI Jakarta dan Camat Cipayung. (Nisa/Rizal PM/LINES)