Selasa, 28 Juni 2022

Jaga Kerukunan Umat Beragama, BKSAUA Kota Bitung Kunjungi DPW LDII Yogyakarta

Sekretaris Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama (BKSAUA) Kota Bitung, Sulawesi Utara, Pdt. Robby Kawengian, S.Th., S.Pd., MAP. (ketiga dari kiri) menerima cinderamata Buku MUNAS LDII IX 2021 dari Ketua DPW LDII DIY Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D. (kedua dari kiri)

LDII YOGYAKARTA - Jajaran pengurus DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menerima kunjungan Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama (BKSAUA) Kota Bitung, Sulawesi Utara pada Senin (20/6/2022). Peserta terdiri dari tokoh enam agama yang berjumlah lima belas orang.

Kunjungan BKSAUA Kota Bitung dalam rangka studi banding moderasi beragama di Kota Yogyakarta sebagai kota toleran. "Kami senang bapak ibu bisa berkunjung ke Kota Yogyakarta. Kalau Kota Yogyakarta disebut kota toleran kami sangat senang," kata Ketua DPW LDII DIY Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D.

Dalam sambutan pembukaannya, Atus menekankan upaya-upaya untuk bersinergi dan berkolaborasi. Alih-alih saling mencela, kini saatnya untuk memandang kelebihan-kelebihan yang dipunyai untuk disatukan. Selain persatuan dan kesatuan, dosen Universitas Gadjah Mada ini pun mengingatkan pula bahwa Indonesia memiliki konsensus kenegaraan, yakni Pancasila sebagai dasar negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), UUD 1945, dan bhineka tunggal ika.

Saat ini, LDII DIY mengelola lebih dari 300 majelis taklim. Sebagian di antaranya berdampingan dengan gereja, candi, dan pura. “Kami terus menasehatkan kepada semua warga LDII untuk mengembangkan sikap toleransi, berbudi luhur, saling membantu, dan bergotong royong. Bagaikan orang naik tangga sedikit demi sedikit, maka hasilnya akan semakin tinggi,” jelas Atus.

Sementara Ketua BKSAUA Kota Bitung Pdt. Venda Pangerapan, M.Th. melalui kunjungan ini berharap LDII terus mengambil bagian dalam kerja bersama di antara beberapa agama yang diakui dan dijamin oleh pemerintah. "Hal ini untuk menjawab kerinduan kita dalam hidup berdampingan antara satu dengan yang lain, sekalipun ada perbedaan namun perbedaan itu bukan menjadi pemicu adanya perdebatan atau pertikaian. Namun kita akan bergandengan tangan untuk mewujudkan kehidupan yang saling mendukung, menghormati dan menghargai satu sama lain," paparnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, dengan adanya moderasi beragama, sebagai tokoh agama mampu meminimalisir gejala yang akan menimbulkan perpecahan di antara agama yang telah hidup dalam kerukunan. "Jadi, baik LDII maupun BKSAUA sangat terbantu untuk mewujudkan apa yang diharapkan yaitu kerukunan antar umat beragama. Kerja dari BKSAUA ini juga bagian dari sinergi dengan Pemerintah Kota Bitung," tutupnya.

Pada kesempatan itu, hadir dari LDII DIY wakil ketua H. Anji Sujiman, S.H., M.M. yang merupakan anggota FKUB Kabupaten Sleman, bendahara H. Yosa A. Alzuhdy, S.S., M.Hum., wakil bendahara Ir. H. Djaka Barata, anggota Biro Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan H. Dody Irawan, S.E., anggota Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah Ust. Endri Sulistyo, dan anggota Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga Ira Fatmawati.

Sementara dari BKSAUA turut hadir sekretaris Pdt. Robby Kawengian, S.Th., S.Pd., MAP., yang juga Kabag Kesra Pemerintah Kota Bitung, lalu Kabag Sumberdaya Alam, Kasubbag Bina Mental Spiritual, beserta jajaran dan tokoh-tokoh dari 6 agama.

Pada kesempatan itu pula, para peserta disuguhi karya kreatif warga LDII berupa kain ecoprint bermotifkan jenis-jenis daun simbol toleransi. Ecoprint merupakan teknik pemindahan motif alam ke dalam suatu media, bisa berupa kain, kertas, hijab, pakaian, sajadah, bahkan keramik. Teknik ecoprint tersebut menggunakan bahan alami sehingga ramah lingkungan, mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Adapun motif ecoprint dapat disesuaikan dengan selera dan kreativitas masing-masing.

Jumat, 17 Juni 2022

Wabah PMK Merebak, DPP LDII Dorong Umat Islam Tetap Berkurban dengan Prinsip Kehati-hatian


Surabaya (17/6). Wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) yang melanda di Jawa, jangan sampai mengendurkan minat umat Islam untuk berkurban pada Idul Adha nanti. Pasalnya, dengan berkurban memiliki nilai ibadah yang tinggi, baik bagi individu maupun kemasyarakatan. Kurban memiliki multiplayer effect yang signifikan. 

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso, saat ditemui di kantornya, Surabaya, pada Kamis (16/6), “Secara pribadi, kurban merupakan wujud ketakwaan hamba kepada Allah. Tak ada amalan yang paling disukai Allah pada Idul Adha, selain menyembelih daging kurban,” ujar KH Chriswanto. 

Secara sosial, kurban mampu meringankan beban masyarakat sampai sepekan setelah hari penyembelihan, “Pengeluaran untuk pangan bisa dikurangi karena pembagian daging kurban, ini sangat membantu. Selain itu, para peternak juga mendapat keuntungan yang berlipat untuk mengembangkan modal usahanya,” katanya. 

Meskipun saat ini sedang terdapat pandemi wabah PMK, masyarakat tak perlu khawatir karena penyakit itu tak berbahaya bagi manusia. Namun, ia menyarankan tetap berhati-hati, karena manusia bisa menjadi pembawa virus PMK ke hewan lain, “Untuk itu perlu kehati-hatian, baik peternak maupun jamaah yang sedang mensurvei hewan kurban,” pungkasnya. 

Senada dengan KH Chriswanto, Medik Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah drh. Slamet Kasiran mengatakan, PMK tidak berbahaya bagi manusia. Menurutnya, PMK atau yang dikenal juga sebagai Foot and Mouth Disease (FMD) disebabkan oleh virus Aphtaee Epizootecae. Masa inklubasi virus tersebut dan sangat menular 1-14 hari sejak tertular penyakit tersebut hingga timbul gejala. 

Menurutnya, penyakit yang menyerang semua hewan berkuku belah atau genap itu telah menyebar di berbagai daerah di Indonesia. Sebelumnya, pada tahun 1887, Indonesia pernah mengalami wabah PMK pertama kali, munculnya penyakit itu berawal di Malang kemudian menyebar ke berbagai daerah, “Per 13 Juni 2022, penyakit PMK sudah menyebar di 18 provinsi dan 180 kabupaten/kota di Indonesia. Dan ada sekitar 150 ribu ekor ternak yang sudah terjangkit PMK,” ujarnya. 

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.403/KPTS/PK.300/M/05/2022 dan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 404/KPTS/PK.300/M/05/2022, Kementerian Pertanian menetapkan PMK sebagai wabah di Indonesia berawal dari Provinsi Jawa Timur dan Aceh.

“PMK menjadi wabah di Indonesia atas usulan Gubernur Jatim dan Gubernur Aceh kepada Menteri Pertanian sehingga Kementan membuat surat keputusan tentang Penetapan Daerah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (Foot and Mouth Disesase) pada beberapa Kabupaten di Provinsi Jawa Timur dan Aceh,” tambahnya.

Slamet, yang juga sebagai tutor paramedik kesehatan hewan di Provinsi Jawa Tengah itu menambahkan, penyebaran penyakit ini sangat cepat dengan menyerang pada ternak berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, domba, unta, gajah, “Namun lebih banyak menyerang sapi, ditandai mulut berlepuh yang bersuhu tinggi antara 39-41 ⁰C. Agar tidak cepat menyebar perlu pembatasan lalu lintas ternak antar kabupaten maupun provinsi,” ujarnya.

“Masyarakat bisa mendeteksi gejala PMK melalui gejala klinis, di antaranya, suhu panas dengan ditandai koncong hidung mengering, mulut mengeluarkan leletan air liur, berkurangnya nafsu makan dan produksi susu untuk sapi perah mengalami penurunan drastis sampai dengan tidak ada susunya,” jelasnya.

Menurutnya, hewan yang terpapar PMK bukan karena faktor keturunan, tetapi lebih disebabkan karena terinfeksi atau tertular ternak yang terpapar PMK melalui penularan udara. Dan rata-rata hewan yang terpapar PMK membaik dalam 14 hari setelah diobati, “Maka pencegahannya, ternak yang terpapar PMK agar dipisahkan dari ternak yang sehat dan melakukan desinfeksi kandang dan lingkungannya. Ini sifatnya adalah sementara atau temporer, sebab pengobatan bersifat mencegah infeksi sekunder,” urainya.

Untuk pencegahan, lanjutnya, ternak-ternak berkuku belah dari penyakit PMK secara permanen diperlukan vaksinasi PMK. Untuk tahap awal, pada 13 Juni 2022 telah dilakukan import vaksin PMK sebanyak 800.000 dosis. Diperuntukkan pada pusat pembibitan dan peternakan sapi perah, “Selanjutnya vaksinasi PMK secara masal akan dilaksanakan Bulan Agustus 2022 dengan vaksin produksi dalam negeri yaitu vaksin Pusvetma Surabaya,” ungkapnya. 

Slamet menyebut, ternak yang terpapar PMK, daging dan susunya tidak bahaya untuk dikonsumsi manusia karena penyakit PMK tidak bersifat zoonosis (hewan yang bisa menularkan kepada manusia). PMK bisa disembuhkan dengan memberikan pengobatan antibiotik, multivitamin, antihistamin dan penurun panas. “Selain itu, obat herbal juga dapat digunakan untuk menekan penularan PMK seperti temulawak, jahe, kunir yang dicampur dengan gula merah,” ujarnya.

Menjelang Hari Raya Idul Adha, ia menghimbau masyarakat bisa memilih hewan kurban secara syar'i, memenuhi syarat dan secara klinis, ternak yang dipersiapkan untuk kurban tidak menunjukkan gejala penyakit PMK dengan dipastikan telah diperiksa dokter hewan dan mendapatkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).

“Adanya penyakit PMK masyarakat jangan panik, karena bisa disembuhkan, penyakit PMK tidak menular pada manusia dan daging serta susunya tetap aman dikonsumsi jika dimasak dengan benar,” tutupnya. (kim/*)