TERBARU

DAERAH
NASEHAT

GALERI

TEKNOLOGI

BISNIS

KESEHATAN

Recent Posts

Jumat, 17 Mei 2019

Tidak Tanggung-tanggung, LDII Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya "RAKSASA"

PLTS RAKSASA PONPES WALIBAROKAH LDII DENGAN BACKGROUND MENARA ASMA'UL HUSNA
KEDIRI – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur. Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo mengatakan selama ini pondok pesantren masih tergantung kepada perusahaan listrik negara (PLN) dalam membantu penerangan di lingkungan pondok. Akibatnya beban biaya yang ditanggung terus meningkat seiring dengan besarnya pemakaian listrik. 

"Berkacara dari hal tersebut DPP LDII melakukan terobosan berupa pembangunan PLTS sendiri. Sebagai tahap awal dibangung di Ponpes Wali Barokah kota Kediri," kata Prasetyo Sunaryo.


Pengembangan PLTS yang terbesar di Indonesia untuk ponpesini, dikatakan Prasetyo merupakan bentuk pemanfaatan dan penerapan energi baru terbarukan (EBT) sesuai dengan rencana jangka panjang organisasi. 

"Ponpes yang menggunakan PLTS sebesar ini yang pertama di Indonesia. Ini wujud paradigma khusus tidak cukup dengan cara pandang perbandingan harga saja. Pendayagunaan EBT komparasinya bukan terhadap harga BBM, tetapi harus terhadap pengandaian apabila terjadi kelangkaan energy BBM. Ini yang menjadi pemahaman organisasi yang kita terapkan," tambah Prasetyo


 "Khusus energy matahari,  karena Indonesia sebagai negara tropis tidak ada musim salju, sehingga energy matahari tersedia sepanjang tahun. Dari perspektif religious, penggunaan energy matahari merupakan manifestasi kesyukuran ke Allah yg mengkarunia Indonesia dengan sinar matahari yg tak ternilai harganya," imbuhnya.

Pimpinan Ponpes Walibarokah KH Soenarto  mengaku pihaknya ingin mensyukuri anugerah Allah berupa sinar matahari, untuk menjadi energi listrik untuk menerangi pondoknya. Sehingga terjadi penghematan biaya pengelolaan pondok secara signifikan. 

“Untuk kedepannya ada pemikiran menjadikan ponpes ini, sebagai wisata religi dan edukasi teknologi PLTS. Sehingga menginspirasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penerapan Energi Baru Terbarukan,” kata pria asal Klaten tersebut.

PLTS RAKSASA WALIBAROKAH LDII TAMPAK DARI KETINGGIAN


PLTS yang dibangun instalasinya di ponpes tersebut berukuran 40 m x 41 m. Menurut pakar PLTS yang aplikator PLTS di Ponpes Walibarokah, Horisworo, dengan pertimbangan untuk memberikan manfaat yang lama, maka dana yang terkumpul secara gotong royong warga LDII tersebut dibelikan panel surya (Solar Cell) yang premium grade buatan Kanada.

“Maka harganya, termasuk peralatan penunjangnya mencapai Rp.10,1 Milyar. Tapi potensi umat yang besar ini harus diwujudkan dengan membeli yang premium grade buatan Kanada. Sayang bila hanya beli buatan Cina yang harganya lebih murah. Tapi yang perlu dipahami mahalnya itu didepan saja. Dengan adanya garansi 25 tahun dari produsennya, maka yang dari Kanada ini  jatuhnya malah lebih efisien,” kata Horisworo saat memberikan pemaparkan di lokasi PLTS ponpes tersebut.


Bantuan NASA

PLTS tersebut nantinya akan menghasilkan 1 juta Watt maksimalnya. Dan saat ini belum dioptimalkan seluruhnya, karena kebutuhan ponpes dengan 5000 santri tersebut sudah terpenuhi dan masih ada banyak kelebihan. Penerangan di ponpes yang terletak ditengah Kota Kediri tersebut, juga sangat bagus. Saat suaramerdeka.news tiba disana pada malam hari terlihat penerangan yang maksimal, lebih terang dari Mal. Hal ini membuat santri lebih nyaman belajar dan beraktifitas serta kondisi tersebut didapat dengan efisien karena memanfaatkan PLTS.  

“Prinsipnya ponpes Walibarokah sudah mempraktekkan dan berinvestasi jangka panjang dalam bidang EBT. Pembangunan dan pengembangan ponpes adalah sebuah keniscayaan, dan kami sudah menabung, sudah berinvestasi untuk mandiri energi, memanfaatkan karunia Allah. Maka kami serius membangunnya, sampai untuk penentuan titik dimana intensitas sinar matahari terbesar, kami minta bantuan satelit NASA. Ya digedung inilah yang intensitas sinar matahari tertinggi (dibandingkan beberapa gedung di ponpes tersebut),” papar pria asal Banyumas tersebut.

Saat ini warga Kota Bandung tersebut sudah merencanakan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bio Masa (PLTBM) dengan memanfaatkan sampah harian dari warga ponpes yang jumlahnya ribuan orang.

“Dari sampah atau suatu yang dibuang bisa kita manfaatkan menjadi energi. Dengan berbekal pengalaman telah membuat PLTMB di Bandung, saya punya keinginan bisa menghadirkannya di ponpes ini. Potensi dari sampah disini sangat besar, dan bisa makin mengokohkan kemandirian energi ponpes ini. Tinggal menunggu bagaimana musyawarah pimpinan pondok,” kata Horisworo.

Sebelumnya,  untuk memenuhi kebutuhan energi listrik secara mandiri juga dikembangkan pembangkit lisrik berskala kecil,  pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH) di pabrik teh Jamus di Ngawi. 

Pabrik teh peninggalan Belanda. tahum, 1928 seluas 478 ha itu,  semula digarap menggunakan bahan bakar minyak ( BBM)  dan kayu bakar.  Kini semuanya menggunakan listrik secara mandiri PLTMH. 

PLTMH  yang dirancang oleh Horisworo teraebut, pada tahun 2007.  Menurut Purwanto wahyu,  Pimpinan Perkebunan Jamus,  untuk satu unitnya mampu memghasilkan 100 kwh dengan investasi awal sebesar Rp 1,7miliar.  Kemudian setelah itu dibangun satu unit lagi dengan biaya Rp 900 juta dengan menghasilkan 100 kwh dan setahun kemudian disusul pembangunan lagi yang melewati tanah masyarakat dengan menghasilkan 50 kwh. (*)

Sumber:Johar Humas DPP LDII
Editor   : Rizal Putra Milda/Lines DPD LDII Tulang Bawang
Foto      : Berbagai Sumber






Sabtu, 02 Maret 2019

Gubernur Khofifah: Politik Identitas Bisa Menggerus Karakter Bangsa


Jombang (2/3/2019) DPW LDII Jawa Timur menggelar seminar bertajuk Pendidikan Karakter Bangsa untuk Generasi Milenial. Acara ini menghadirkan pembicara utama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Sementara pembicara lainnya adalah pakar pendidikan Prof. Imam Suprayoga dan Ketua DPP LDII DR. Basseng, M.Ed.

Seminar pendidikan ini juga digabungkan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung SMA Budi Luhur, di Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Sekolah formal ini merupakan bagian dari Pesantren Gadingmangu.

"Kehadiran Ibu Gubernur merupakan motivasi dalam membangun pendidikan karakter di Jombang," ujar Bupati Jombang Mundjidah Wahab. Menurutnya, pendidikan karakter ini menjamin kerukunan antar umat beragama. Kerukunan dan kebersamaan ini menjadikan Jombang tetap kondusif meskipun dalam suasana Pemilu.

"Saya berharap, masyarakat bisa memilah dan memilih pemimpin yang dapat mengayomi rakyat," papar Mundjidah.

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua DPW LDII Jawa Timur Amien Adhy menyatakan pertumbuhan penduduk 5-6 juta per tahun menjadi beban bagi bangsa. Hal itu terjadi, menurut Amien, bila pertambahan penduduk hanya menghasilkan generasi tak berketerampilan.

"Agar jadi aset bangsa, maka solusinya adalah pendidikan," ujar Amien. Ia memaparkan pendidikan di abad 21 haruslah pendidikan yang dapat menangkap gerak zaman atau tidak kedaluwarsa ketika memasuki dunia kerja.

Namun dunia pendidikan juga tak lepas dari masalah. Amien menyontohkan secara kuantitas, dunia pendidikan menghadapi masalah jumlah gedung, guru, dan siswa. Sementara secara kualitatif, masalah yang dihadapi adalah bagaimana ilmu tersebut bisa relevan dengan zaman.

"Peletakan batu pertama ini merupakan jawaban dari sisi kuantitas, dan berikutnya perlu pelatihan bagi guru," ujar Amien.

Pendidikan abad 21 ditandai dengan kemudahan mengumpulkan informasi. Namun yang paling penting, menurut Amien, adalah menumbuhkan kepekaan dalam menganalisis informasi.

Menurut Amien, peletakan batu pertama SMA Budi Luhur oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, secara simbolis menunjukkan LDII berkontribusi menjadikan pertumbuhan penduduk sebagai aset bangsa, bukan beban bangsa.


Di hadapan lebih dari 7.000 santri Pesantren Gadingmangu dan siswa-siswi SMP, SMA, dan SMK Budi Utomo, Khofifah mengatakan gadget merupakan masalah sekaligus berkah.

Menurutnya, dengan fokus pendidikan karakter bangsa, ia memprediksi dalam pendidikan karakter di dalam keluarga besar LDII, fokus adalah membangun generasi yang berkarakter kuat, memiliki nuansa kebangsaan yang kuat dan spiritualitas yang kuat pula.

Ia bangga dengan kekerabatan muslimat NU dan muslimat LDII, yang merupakan penyemai karakter generasi masa depan.

Dengan pendidikan karakter bangsa tersebut, menurut Khofifah tak ada lagi misintepretasi dalam Pancasila dan UUD 45. Khofifah juga mengingatkan kurangnya pendidikan karakter bangsa, menunjukkan peningkatan intoleransi pada generasi milenial.

Ia menyebutkan riset yang dilakukan UIN Syarif Hidayatullah, yang menyebut 37,7 persen generasi milenial setuju jihad adalah perang dengan umat yang berbeda kepercayaan. Mereka juga meyakini tindak kekerasan terhadap minoritas adalah hal yang wajar.

Bukan hanya milenial, bahkan guru dan dosen tidak setuju bila pemerintah melindungi minoritas.

"Membangun karakter bangsa dengan demikian sama halnya dengan membangun rasa saling menghargai, menghormati, moderasi, dan toleransi sehingga memberi resonansi strategis dalam membangun bangsa," ujar Khofifah.

Khofifah menambahkan, generasi milenial yang dibimbing oleh media sosial sangat mengkhawatirkan. Ia menyebut, salah satu dari delapan ciri generasi milenial adalah no gadget no life! Tapi generasi X sebagian juga tak bisa pisah dari ponsel, "Ibu-ibu bangun Subuh menyentuh air wudlu atau ponsel duluan? Jadi sebagian generasi X juga berpedoman no gadget no life!," imbuh Khofifah.

Untuk itu baik milenial maupun generasi X harus mampu melihat sisi positif dari ponsel dan media sosial, agar dapat mengonstruksi kehidupannya secara positif pula. Pemikiran dan kehidupan yang positif bisa jadi bekal Indonesia jadi kekuatan ekonomi nomor enam dunia pada 2030 dan keempat pada 2040.

"Modalnya sudah kelihatan, saya pernah ke Komando Armada Timur, terdapat Kapal Perang I Gusti Ngurah Rai, adalah hasil karya anak bangsa di PT PAL," ujar Khofifah. Kapal perang canggih itu mampu mendeteksi kapal musuh dari jarak lebih 100 km dan mampu mendeteksi kapal selam ratusan meter di bawah laut.

"Inilah modal besar pembangunan poros maritim yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi," ujar Khofifah. Dengan wilayah 85 persen laut dan garis pantai terpanjang nomor dua dunia, Indonesia harus memiliki nilai lebih dalam kemaritiman.

"Dengan potensi laut yang luas, kita tak boleh lagi impor garam. Dan Jawa Timur akan fokus mendorong swasembada garam nasional," ujar Khofifah.

Khofifah dalam kesempatan itu, melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung SMA Budi Luhur. Gedung itu direncanakan setinggi tiga lantai dan dapat menampung 3.000 siswa. Menurut Wildy Istimror Ketua Yayasan Budi Utomo, dana yang dibutuhkan mencapai Rp18-20 miliar.

Sumber: KIM DPP LDII
Editor   : Rizal/KIM DPD LDII Tulang Bawang-Lampung

Kamis, 11 Oktober 2018

Letjen (Purn) H. Prabowo Subianto "UUD 45 Sudah Sediakan Solusi Masalah Bangsa"

Jakarta (11/10). Hari kedua Rakernas LDII, Prabowo memberikan pembekalan kepada peserta Rakernas LDII. Dalam kesempatan itu, Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam memaparkan fokus kegiatan LDII, yang sekaligus menjadi aspirasi warga LDII untuk dijadikan program pembangunan para capres.

“LDII terdapat di 34 provinsi dan 514 DPD kabupaten/kota. Jumlah pesantren kami sejumlah DPD kabupaten/kota. Para dai kami berdakwah hingga ke Australia, Asia, Eropa, hingga Kongo,” ujar Abdullah Syam. Ia berharap para peserta yang berjumlah 1.500 orang ini bisa mendengar pemaparan Prabowo, mengenai tantangan yang dihadapi bangsa sekaligus solusi.

Dalam pemaparannya, Prabowo menukil buku yang ia tulis Paradoks Indonesia: Negara Kaya Raya, Tetapi Masih Banyak Rakyat Hidup Miskin. Ia menyebut kekayaan alam tak bisa menyejahterakan rakyat, karena elit politik lebih mementingkan kepentingannya sendiri, di atas kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan rakyat.

“Seluruh mineral yang ada untuk mendukung Indonesia sebagai negara industri terdepan, namun semua bahan-bahan itu justru diekspor. Orang-orang hebat di Indonesia tak dimanfaatkan kemampuannya sehingga negara ini rugi. Kita terus hidup dari utang dan elit politik menyatakan hal itu biasa,” ujar Prabowo.


Menurut Prabowo, elit politik adalah siapa saja yang menjadi pimpinan, termasuk dirinya. Prabowo menyatakan, dirinya juga pernah menjadi bagian yang negara ini ketika menerapkan ekonomi neoliberal. Namun dampak buruk dari ekonomi neoliberal menyadarkannya, bahwa kekayaan yang dimiliki oleh segelintir orang tak akan menetes kepada orang lain – sebagaimana keyakinan penganut neoliberal.

Neoliberal sangat menarik bagi negara kaya, namun menurutnya, membuat kesenjangan kesejahteraan antara yang miskin dan kaya, “Dolar naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000, artinya kita rugi Rp5.000. Kerja keras upah tetap namun nilainya berkurang. Artinya kita makin miskin. Inilah akibat dari neoliberalisme. Negara pun hidup dari utang,” ujar Prabowo.

Menurut Prabowo, kini negara-negar maju seperti AS justru menolak neoliberalisme. Setelah kalah dengan ekonomi Tiongkok, AS tak mengakui lagi pasar bebas. Ia menyontohkan Amerika yang bersemboyan America Great Again! Yang memproteksi sumberdaya alam dan penyediaan lapangan kerja untuk rakyat AS.

Neoliberal, menurut Prabowo juga menyebabkan segelintir orang menguasai sumberdaya yang besar, “Rasio Gini 45,4 artinya 1% orang menguasai 45% sumber daya. Di bidang pertanahan menurut data Walhi, tanah di Indonesia banyak dikuasai swasta. Rasio Gini tanah mencapai 80, yang artinya 1% orang menguasai 80% tanah di Indonesia,” ujar Prabowo.

Menurut Prabowo, ia tak membenci swasta, namun negara harus lebih berperan. Selama 73 tahun merdeka, neraca perdagangan Indonesia hingga 2012 menguntungkan Indonesia. Hanya saja US$ 300-an miliar uang swasta tak masuk lagi ke Indonesia. Tapi disimpan di luar negeri.

Prabowo menegaskan, segala masalah bangsa sudah siberikan solusinya oleh para pendiri bangsa. Menurutnya, solusi itu ada dalam UUD 45 pada pasal 33. sebesar-besarya untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Prabowo menyebut warga LDII bisa menanam singkong, 1 singkong memiliki berat di atas 100 kg. Bila mampu menanam 100 pohon bisa memperoleh 1.000 kg. Singkong-singkong ini bila diubah menjadi etanol, dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.

“Saya yakin negara kita mampu berdiri di atas kaki sendiri. Negara kita sangat kaya. Negara yang berpijak pada kepentingan nasional, kepentingan rakyat Indonesia itu yang kita utamakan,” ujar Prabowo.


Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII, Abdullah Syam menyatakan Rakernas ini, merupakan aspirasi warga LDII untuk memberi masukan kepada para capres. Dan LDII juga membutuhkan berbagai masukan dari para capres untuk program kerja ke depan.

Adapun delapan bidang yang jadi fokus perhatian dan menjadi aspirasi LDII adalah: pertama, dakwah. Di bidang dakwah, LDII memandang setiap manusia berhak memperoleh hikmah. Untuk itu LDII tak hanya berdakwah di perkotaan, namun ke kalangan yang terpinggirkan, seperti di perkampungan kusta di Nganget, Tuban, jawa Timur, di kelompok penyandang tunarungu di Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur. Dakwah LDII juge menyentuh warga di Lapas.

Kedua, di bidang kebangsaan, LDII menanamkan rasa cinta tanah air. LDII sejak 1972 telah berasaskan Islam, dan memandang Islam menjiwai Pancasila. Dalam bidang kebangsaan, LDII mendorong pelestarian dan pengembangan bahasa, sebagai aset bangsa yang menyatukan bangsa Indonesia. Ketiga, di bidang pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola LDII fokus untuk melahirkan generasi yang profesional religius.

Keempat, bidang kesehatan, LDII mendorong pemanfaatan obat herbal sebagai pendamping obat konvensional. Obat herbal bisa menjadi pengobatan utama, saat harga obat melambung tinggi.  Kelima, di bidang energi baru dan terbarukan, LDII telah memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan pembangkit listrik mikrohidro. Keenam, di bidang ekonomi syariah, LDII membentuk lembaga pembiayaan syariah dan mendirikan koperasi berbasis syariah, dengan menekankan kerja sama bukan kompetisi.

Ketujuh, di bidang ketahanan pangan, LDII mendorong pemanfaatan lahan tak produktif menjadi produktif. Warga LDII berhasil menyulap lahan gambut menjadi lahan yang dapat ditanami. Dan kedelapan, LDII mendorong warganya dalam memanfaatkan teknologi digital, kecerdasan artifisial, dan robotik.

KIM LDII


Selasa, 09 Oktober 2018

Di Rakernas LDII, Jokowi Ingatkan Jangan Ada Fitnah Jelang Pemilu












Jakarta (10/10). Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menggelar Rakernas yang diikuti 1.500 peserta dari tingkat Dewan Perwakilan Wilayah (Provinsi) dan Dewan Perwakilan Daerah (Kabupaten/kota). Acara ini juga diikuti peninjau yang terdiri dari para ulama, pengurus DPP, pengasuh pondok pesantren, dan sekolah yang berada di bawah naungan LDII.

“Acara ini sangat strategis karena bertepatan dengan tahun politik. Untuk itu, kami menggelar Rkernas untuk mengumpulkan aspirasi dari bawah yang bisa menjadi masukan bagi para capres. Jadi Pilpres bukan ajang komunikasi searah dari para kandidat. Justru ini waktu yang baik bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasinya,” ujar Ketua Umum DPP LDII, Abdullah Syam.


















Menurut Abdullah Syam, lima tahun masa pemerintahan presiden, masyarakat bisa merasakan langsung dampak program kerja. Maka masyarakat berhak memberikan masukan dan mengevaluasi untuk perbaikan. Siapapun presidennya nanti.

Dalam kesempatan itu Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan bangsa Indonesia adalah bangsa dan negara yang besar, sekaligus menyimpan perbedaan yang besar, “Wilayah Indonesia setara perjalanan dari London ke Istambul, kita memiliki 714 suku, 1.500 bahasa, dan keragaman suku dan budaya. Bandingkan negara ini dengan negara lain, terlihat betapa Indonesia bangsa yang besar. Namun ingat, ancaman perbedaan juga besar,” ujar Jokowi.

Maka, presiden mengingatkan jangan sampai bangsa ini pecah hanya karena Pilkada, Pileg, dan Pilpres, “Kampanye politik yang didasari kebohongan, hoax, dan fitnah hanya memecah belah bangsa ini,” ujar Jokowi. Presiden mengingatkan, energi bangsa ini seharusnya diarahkan untuk menyambut perubahan dunia yang cepat.

Era indutri 4.0 merupakan era yang sangat dinamis perubahannya. Pasalnya, sejak revolusi industri pertama, telah terjadi 3.500 perubahan dalam industri 4.0. Mulai dari kecerdasan buatan, otomatisasi robot, cryptocurrency, bitcoin, hingga virtual reality, dan 3D printing, “Meskipun luar biasa, membuat pekerjaan makin cepat namun membawa dampak negative pula. Untuk itu, kita harus mempersiapkan bangsa Indonesia mengantisipasi sekaligus memanfaatkan kecanggihan teknologi di era industri 4.0,” papar Jokowi.

Bagi pengusaha, industri 4.0 menguntungkan karena dapat menekan biaya produksi. Namun dari sisi penyerapan tenaga kerja, bisa merugikan masyarakat. Untuk itu bangsa ini perlu mengantisipasi.

Di samping itu, tekanan dari negara lain membuat ekonomi Indonesia terimbas, karena negara-negara kini sudah tak berbatas. Jokowi menyontohkan ekonomi Indonesia sangat terpengaruh oleh kebijakan negara lain, kebijakan Bank Federal, bahkan kebijakan ekonomi negara lain bisa mempengaruhi Indonesia. Untuk itu, menghadapi negara yang sudah tak memiliki batas, pembangunan karakter menjadi sangat penting. Bangsa Indonesia harus menjaga nilai, tata krama, etika, dan sopan santun agar tak ikut terimbas efek negative dari fenomena global.  

Jokowi juga mengingatkan, isu-isu negatif dan kampanye hitam, jangan terus berulang-ulang dalam setiap Pemilu yang diadakan dalam lima tahun sekali, “Saya jadi korban. Saya dituduh PKI. PKI bubar 1965 sedangkan saya lahir 1961, masak PKI balita. Saya tidak kena, orangtua dan kakek nenek saya dituduh. Ada Foto yang mirip saya dekat Aidit. Tidak masuk akal. Bahkan ada kyai yang ingin bicara empat mata, soal saya PKI. Tapi semuanya terbantahkan,” ujar Jokowi.
























Rakernas LDII Usulkan 8 Bidang Pembangunan

LDII dalam Rakernas mengusulkan delapan bidang pembangunan yang bisa dijadikan titik fokus pembangunan nasional, “Kami mengusulkan kepada pemerintah, karena kami telah melaksanakan delapan bidang pembangunan tersebut,” imbuh Abdullah Syam.

Delapan bidang itu, pertama, yakni penguatan wawasan kebangsaan (Bidang Kebangsaan) yakni menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Inilah yang menjadi payung dalam pembangunan. Kedua, bidang dakwah, LDII dalam dakwahnya fokus dalam membentuk manusia yang profesional religius, yakni masyarakat yang memiliki sikap profesional dan dilandasi dengan religiusitas. Mereka bisa berprofesi apa saja namun juga memiliki religiusitas yang tinggi.

Ketiga, bidang pendidikan, LDII berkomitmen mendirikan sekolah-sekolah yang mendukung terciptanya generasi yang Tri Sukses, yakni generasi yang memiliki kepahaman agama yang kuat, memiliki akhlak yang mulia, dan mandiri. Sekolah-sekolah di LDII umumnya digabungkan dengan pesantren-pesantren.


















Keempat, bidang ekonomi syariah, untuk penguatan ekonomi kerakyatan dengan memelopori koperasi syariah, BMT, dan Usaha Bersama (UB). Kelima, bidang kesehatan dan herbal, DPP LDII mendorong warga LDII memanfaatkan obat-obatan herbal sebagai alternative pengobatan. Hal ini dilakukan untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat jasmani dan rohani. Obat herbal juga membantu masyarakat saat harga-harga obat menjadi mahal.

Keenam, bidang ketahanan pangan, LDII mendorong para petani menggunakan teknologi tepat guna, manajemen pertanian/pangan, dan penggunaan bibit unggul. LDII mendorong warganya untuk melakukan konsumsi dan produksi berkelanjutan dengan target zero waste. Di pesantren LDII, air wudhu digunakan untuk memelihara lele dan menyiram tanaman pangan, untuk dikonsumsi para santri. Di tingkat rumah tangga, sampah organik digunakan untuk pupuk tanaman. Serta mendaur ulang sampah-sampah dalam bank sampah maupun dimanfaatkan kembali agar memiliki nilai ekonomi.

Ketujuh, bidang energi terbarukan, LDII mendukung pemerintah dalam mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan menggunakan energi terbarukan hingga 7 persen pada 2019 dan 23 persen pada 2024. Pesantren di lingkungan LDII telah menggunakan pembangkit listrik tenaga surya dan dalam skala industri, warga LDII memanfaatkan mikrohidro.

Kedelapan, menyambut era industri 4.0, LDII telah menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital. Warga LDII telah menggunakan digital printing, kecerdasan artifisial, dan berbagai software untuk memudahkan pekerjaan dan transaksi. LDII juga membekali warganya dengan etika media sosial dan pelatihan jurnalistik, untuk menghindari hoax dan menyebarkan informasi yang positif.

KIM LDII


Senin, 01 Oktober 2018

Sabtu, 29 September 2018

Jumat, 21 September 2018

Pers Rilis Rakernas DPP LDII "Pesta Demokrasi, Saatnya Rakyat Menyalurkan Aspirasi"

Jakarta (21/9). LDII bakal menggelar Rakernas pada 10 – 11 Oktober 2018.  Perhelatan akbar organisasi seusai Munas ini bebarengan dengan agenda bangsa, Pemilu Legeslatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 – 2024 secara bersamaan. LDII memandang, Rakernas ini sangat strategis, baik bagi LDII maupun bagi rakyat Indonesia untuk menyampaikan aspirasinya.

Momentum ini, dimanfaatkan LDII sebaik-baiknya untuk melakukan proses agregasi aspirasi (pengumpulan berbagai aspirasi) yang dibawa oleh para utusan (peserta Rakernas) yang berasal dari 34 propinsi dan sekitar 430 utusan kabupaten/Kota serta para peninjau dari berbagai lembaga pendidikan umum dan pondok pesantren. Total peserta mencapai 1.400 orang, yang bertempat di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Jakarta Timur.



Selanjutnya, aspirasi yang diperoleh dari Rakernas ini diharapkan juga akan dapat disampaikan kepada para calon-calon pimpinan nasional, baik yang di eksekutif (capres/cawapres) dan juga bagi para calon legislator (DPR) pada tingkat nasional, provinsi dan Kab/Kota. Selama ini dalam ajang kampanye, calon incumbent hanya dinilai berdasar apa yang telah dikerjakan – terutama keberasilannya saja -- dan calon baru dinilai berdasarkan apa yang ditawarkan. 

Pola seperti ini tidak lengkap, karena belum timbal-balik atau hanya sebagai monolog para elit politik. Pada tataran ideal, pelaksanaan agenda demokrasi ini juga harus difungsikan sebagai ajang nasional penyampaian aspirasi yang bersifat substantif-aspiratif kepada para kandidat (calon oleh rakyat/konstituen), agar para kandidiat dapat lebih mengenali secara langsung apa harapan rakyat yang bersifat riil-substantif, dan tidak sekedar kegiatan penerimaan atau penyampaian dukungan tanpa kejelasan makna.

Dalam konteks ini, LDII melalui Rakernas 2018 bermaksud memberikan kontribusi sekecil apapun, agar praktek demokrasi dapat semakin berkualitas dan bermakna, sesuai dengan maksud kehidupan atau tujuan demokrasi itu sendiri. Praktek demokrasi harus mampu mencerminkan atau mewujudkan fungsi representasi (keterwakilan) dan tidak hanya sekedar mengejar keterpilihan saja. Bidang eksekutif harus perupakan representasi program kerja sesuai keinginan rakyat, sementara bidang legeslatif merupakan representasi keterwakilan dan kebutuhan masyarakat.

Melalui Rakernas ini secara internal LDII akan merumuskan program kerja organisasi yang terdiri dari 8 bidang, secara eksternal LDII akan menyampaikan 8 bidang kerja tersebut kepada calon eksekutif (capres/cawapres) dan juga kepada calon legislatif, agar nantinya dapat dilaksanakan secara sinergis dalam mewujudkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sehat, produktif dan berdaulat.

Adapun 8 bidang yang akan dibahas di Rakernas meliputi :
1. Wawasan Kebangsaan
2. Prinsip Dakwah dan akhlak bangsa
3. Pendidikan karakter
4. Pangan dan Lingkungan Hidup
5. Ekonomi Syariah
6. Pengembangan Pengobatan herbal
7. Pemanfaat Teknologi Digital Produktif
8. Pemanfaatan Energi Baru-Terbarukan



Apabila era agenda demokrasi yang saat bulan Oktober 2018 – April 2019 telah memasuki tahap kampanye, maka harapan LDII adalah, agar pola kampanye merupakan forum take and give program, dalam arti, terjadi interaksi positif-aktif, yaitu kandidat bisa menyodorkan usulan program maupun menerima usulan program dari konstituen, sehingga program kerja nasional 2019-2024 nantinya siapapun yang terpilih, telah merupakan integrasi program antara program candidat dan usulan konstituen.

Bila keadaan ini dapat terwujud, maka era kampanye dapat merupakan ajang interaktif positif-aktif, sehingga jargon-jargon negatif yang bersifat saling menjatuhkan dapat diminimalkan dan kehidupan demokrasi yang sehat dan semakin berkualitas dapat diwujudkan bersama.(KIM Dpd Ldii Tuba/Rpm)



SOSOK